Kamis, 27 Maret 2014

Komunikasi Politik Caleg

sumber : tribunnews
Pemilu Legislatif tinggal sebulan lagi. Tapi gaung kredibilitas para calegnya masih belum terdengar. Hanya posternya saja yang turut meramaikan kaca bagian belakang angkot dan pohon rindang.

Tepat tanggal 9 April nanti masyarakat Indonesia  menggunakan hak politiknya untuk menentukan siapa calon legislatif (caleg) pilihannya. E-voting pun dipilih  sebagai sistem baru  dalam pemilihan umum nanti. Namun apakah  pemilihan umum legislatif  (pileg)  tahun ini akan  berhasil  menyedot partisipasi rakyat?

Jika kita  analogikan ke masa lalu,  partisipasi pemilih  turun dari tahun ke tahun. Pada pileg  tahun 1999 golput  mencapai angka 10,2%. Selanjutnya pada pileg 2004 sebanyak 23,3% golput.  Dan di tahun 2009 jumlahnya meningkar jadi 29%  yang  tidak menggunakan hak pilihnya.

Trend angka golput  meningkat setiap periodenya. Hal itu menjadi pertanda  berkurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pileg. Jangan salahkan rakyat jika  pada pileg  memilih Golput. Calon legislatifnya saja kurang begitu dikenal dikalangan masyarakat. Informasi  yang dibutuhkan masyarakat tentang calegnya bukan sekedar siapa dan dari partai apa. Melainkan bagaimana kredibilitas caleg itu. Lalu solusi  kerakyatan apa  yang akan dilakukan caleg  jika kelak terpilih. Sehingga para Caleg harus sadar bahwa memikat hati rakyat bukan sekedar narsis pasang poster di body  angkot dan  pohon rindang.

Mendulang suara di pileg memang bukan hal yang mudah.  Strategi komunikasinya pun harus inovatif dan terencana dengan baik. Sehingga caleg harus bisa nyekill (nge -skill) dalam  menyampaikan pesan politiknya. Pun, pesan politik yang disampaikan harus bisa menjawab apa yang sebenarnya diharapkan rakyat.   Mengapa demikian?

Fenomena apatisme masyarakat  muncul seiring dengan kekecewaannya  terhadap era reformasi. Di tambah  lagi dengan pemberitaan media terkait kasus korupsi   yang melibatkan para elit  politik, membuat kredibilitas partai  di mata masyarakat kian merosot.  Mayoritas parpol  gencar membangun citranya hanya di saat-saat menjelang pemilu. Usai pemilu  peran parpol tampaknya datar-datar saja, bahkan cenderung mengabaikan permanent campaign atau tidak mampu melaksanakan program–program politik  yang ditawarkan pada saat kampanye.

Hingga detik ini,  belum muncul caleg yang pro aktif  menanggapi  isu tertentu.   Padahal  suatu isu yang beredar di masyarakat bisa menjadi umpan untuk seorang  caleg dalam merancang perencanaan  komunikasi politiknya.

Masih tersirat kenangan bagaimana  popularitas Jokowi  naik ketika mengangkat isu  Mobil Esemka.  Mobil  karya siswa SMK ini banyak disorot televisi  menjelang pencalonan Jokowi sebagai gubernur DKI. Dengan bangga Jokowi mempromosikan keunggulan Esemka sebagai karya anak bangsa. Padahal saat itu bangsa ini sedang dilanda pro dan kontra tentang impor mobil murah. Alhasil tak hanya menarik simpati masyarakat, Jokowi pun berhasil menjadi media darling hingga saat ini.

Strategi komunikasi Jokowi mirip dengan konsepsi Ostergaard (2002) tentang aspek A3 (awareness, attitude, action). Pada tahapan awareness ini Jokowi sebagai komunikator politik menggugah kesadaran sekaligus menarik perhatian masyarakat, melalui gagasan dan informasi yang dikampanyekan.

 Selanjutnya adalah tahapan attitude sasaran politik. Dimana di tahap ini komunikator politik memunculkan rasa simpati, rasa suka dan kepedulian. Kemudian memunculkan  keberpihakan khalayak pada isu-isu  yang menjadi tema kampanye. Pada tahapan action berarti kampanye  ditujukan untuk mengubah  perilaku masyarakat  secara konkrit  dan terukur.

Seorang komunikator politik akan berhasil dalam menyampaikan pesan politiknya ketika ia memiliki daya tarik dan kredibilitasnya. Dan Jokowi berhasil menggiring daya tarik dan kredibilitasnya itu ke ranah opini publik.

Sekarang, mampukah para caleg menciptakan daya tarik dan kredibilitas yang khas bagi dirinya? Sebagai caleg kreatif seharusnya mampu menciptakan strategi komunikasi  yang lebih jitu. Karena mendongkrak popularitas bukan hanya sekedar membumbui poster kampanye dengan titel gelar, bukan pula dengan memamerkan wajah nan rupawan, apa lagi dengan mendompleng nama besar para petinggi partai.

Intinya, rakyat butuh solusi. Sebagai caleg berkualitas, dia harus bisa menciptakan solusi sebagai pesan sentral dari kampanyenya. Diharapkan para caleg bisa mendongkrak popularitasnya dengan mengkampanyekan solusi cerdas atas masalah yang masih ada di tengah masyarakat.

Kalau masyarakat dipaksa untuk memilih pada pileg tahun ini, tentu bakalan kebingungan caleg mana yang akan dipilih. Sementara masyarakat masih bertanya-tanya, siapa caleg tersebut? Bagaimana kredibilitas partainya? Berpihak pada siapa dia? Siapa yang mendukungnya? Bagaimana reputasi dan track record-nya? Dan solusi apa yang caleg tawarkan kepada pemilih?

Nah, sekarang adakah caleg yang sudah melakukan strategi komunikasi  politik yang terencana? Atau masih mengandalkan body angkot dan pohon rindang untuk mendongkrak popularitas?

Penulis
RISCA TRESMIANTI . S
Mahasiswa FISIP
Universitas Pasundan

Artikel dimuat di rubrik OPINI  HU Pikiran Rakyat






Rabu, 05 Maret 2014

Go Acting ! Cara Atasi Gugup saat Public Speaking

“Di depan panggung sana ada ratusan orang, ribuan orang, bahkan jutaan orang yang mungkin akan menatap aku berbicara. Tatapan mereka seolah menghukumku. Tatapan mereka  seolah menguji  kehebatan ide yang akan aku sampaikan. Jika aku tampak bodoh mereka akan siap-siap mentertawakan. Jika aku salah bicara maka mereka akan saling berbisik dan bergunjing. Jika aku berbicara terlalu berani mungkin mereka akan siap melemparku dengan telur busuk,”
Mungkin pikiran seperti itu biasa menghantui   para public speaker  pemula (seperti saya). Kalau kamu seorang public speaker,   enyahkan pikiran-pikiran seperti itu.  Karena  semua itu hanyalah imajinasi picik yang menari-nari di dalam kepalamu.

Pada suatu hari di laboratorium  public speaking, Mr. Amin (dosen kami di UNPAS) menantang  mahasiswanya  untuk  berbicara didepan audiens.  Audiensnya sedikit, cuma terdiri dari beberapa puluh mahasiswa  yang juga mengikuti kelas tersebut.

Satu per satu mahasiswa  tampil berbicara. Beberapa orang mampu berbicara  dengan lancar, namun kebanyakan orang gugup dan  bingung mau ngomong apa. Beberapa mampu berbicara tapi idenya loncat-loncat dan tidak terstruktur.

Menurut Mr. Amin, ada  beberapa structure speech yang harus disampaikan dalam public speaking,  yakni :
  1. Addressing
  2. Greetings
  3. Opening
  4. Body Content
  5. Clossing
  6. Thanking

Disampaikan Amin,  dalam memulai   speech   tentukan dulu supporting point-nya. Kita bisa menyampaikan testomoni (quote),  analogi (membandingkan sebuah kasus dulu atau kini), statistic ( sesuatu yang ilmiah), Explaination (etimologi,  terminology, penjelasan), Example (contoh studi kasus).

Pada  kesempatan lainnya, Amin  menantang kami untuk berbicara di depan audiens  dengan meniru  bagaimana public speaker  lain berbicara. Artinya  kita tidak perlu menjadi diri sendiri dulu, tapi bagaimana kita menjadi orang lain saat menyampaikan speech. Saya menilai maksud Amin adalah bagaimana kita bisa berakting menjadi  public speaker lain.

Speech  Hillary Clinton pada pidato politiknya pada Democratic  National Convention tanggal  26 Agustus 2008 di Denver, menjadi  role model  yang harus kami ikuti saat itu. Satu per satu dari kami  tampil berbicara seolah-olah kami adalah Hillary Clinton.

Ya, kini giliranku untuk menjadi Hillary Clinton yang berbicara didepan ribuan simpatisan dan pendukung partai democrat. Pikiranku berkata, aku  akan menyampaikan hal-hal baik, mengajak audiens membangun mimpi dan menghadapi masa depan, meyakinkan mereka secara personal bahwa mereka merupakan bagian dari Negara untuk menghadapi tantangan dunia, dan aku  mempengaruhi mereka untuk memilih Barack Obama sebagai Presiden Amerika. Yang saya rasakan selama menjadi Hillary Clinton adalah rasa percaya diri dan bangga dengan perkataan yang saya sampaikan. Kami meniru bagaimana Hillary  menggunaakan speed speaking, intonasi, stressing, pharsing  dan pause  dalam speech-nya.

Dan benar,  Mr.Amin berhasil membuat kami menyampaikan speech di depan audiens  mirip Hillary Clinton. Amin mengatakan, bahwa dalam menyampaikan speech  kita tak perlu  menjadi orang lain akan tetapi kita bisa  menjadikan public speaker  lain sebagai referensi.




Senin, 03 Maret 2014

Memupuk Jurnalisme di Ranah Akademik

Tidak sedikit media kampus yang terpaksa ’gulung tikar’ karena terbentur berbagai persoalan. Entah itu karena masalah dana atau perbedaan idealisme media itu sendiri. Memang masalah dana seringkali menjadi alasan berakhirnya media kampus. Tidak jarang media kampus terpaksa tidak terbit karena adanya benturan idealisme mahasiswa dengan kepentingan institusinya. Kendati sosok mahasiswa tercermin kental dalam sebuah media kampus, namun tampaknya masalah ini harus disikapi bersama, baik oleh mahasiswa maupun institusinya.


Tak banyak perguruan tinggi yang menyadari manfaat jurnalistik atau pers kampus. Padahal perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam menyumbangkan pencerahan dan pemikiran baru bagi sivitas akademika sendiri, bahkan masyarakat luas. Bagaimana tidak, perguruan tinggi memiliki inovasi serta sumber daya yang mampu membangun solusi dan berbagi informasi. Jadi tak ada salahnya jika jurnalistik masuk di ranah akademik. Kuncinya, tetap manajemen redaksi sebagai landasan sebuah penerbitan media kampus.

Banyak cara yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi untuk berbagi informasi. Misalnya menerbitkan koran kampus, majalah kampus dan tabloid, melalui website, fasilitas blog dan lainnya. Atau dengan cara lebih kompleks sepeti televisi kampus dan radio kampus. Apapun bentuknya, pers kampus idealnya tetap mengindahkan ciri khas akademis, yaitu pemikiran ilmiah, rasional, objektif, kritis, etis dan menjunjung tinggi nilai-nilai intelektualitas.

Setiap rubrikrasi dan muatan berita media kampus harus berkualitas dan padat guna. Informasinya bersifat mencerahkan pengetahuan baru. Ini memungkinkan jurnalistik kampus menyoroti kehidupan khas kampus. Muatan berita mengandung unsur sistem pendidikan baru, regulasi-regulasi pendidikan, perkembangan sains dan teknologi, inovasi dan kreativitas mahasiswa, seputar penelitian dosen dan mahasiswa, kultur kampus, dan unit kegiatan mahasiswa.

Menurut pakar jurnalistik Universitas Stanford, William L. Rivers, sebagaimana dikutip Assegaf, pers kampus idealnya harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius. Berisikan tentang kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya. Pers kampus harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasiswa. Pun, ia harus mampu menjadi pers yang diperlukan komunitas kampusnya. Pers kampus harus memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi dan tidak memihak sekelompok kecil orang atau netral.


Media kampus tidak kalah pentingnya dengan penciptaan ’image’ perguruan tinggi itu sendiri. Pemberitaannya pun menunjukan eksistensi, kredibilitas serta profesionalitasnya. Kendati pers kampus berbeda dengan pers umum, sudah seharusnya lingkup dunia akademik mampu menjalankan pers kampus yang terstruktur. Dengan demikian sehingga reputasi media dan kampus akan terbentuk. Pada dasarnya, eksistensi suatu media tergantung dari kondisi internal media itu sendiri. Termasuk sumber daya manusianya, sarana pra sarana serta manajemen yang terencana. Selama pengelolaannya serius, media kampus cukup prospektif.

Penerbitan media kampus memiliki visi dan misi yang ditetapkan tim redaksi. Idealnya, tim redaksi terdiri dari  elemen-elemen kampus, seperti pejabat rektorat, dosen dan mahasiswa. Bagian ini penting karena menetukan sikap media kedepannya. Visi dan misi merupakan filosofi media dimana di dalamnya terdapat prinsip yang permanen. Sehingga sikap media tidak melenceng dari ketentuan yang disepakati redaksi.

Merujuk pada pemikiran teoris manajemen asal Perancis, Henry Fayol, fungsi manajemen meliputi planning, organizing, acting, dan controlling. Sebelum menerbitkan media, tim redaksi wajib melakukan perencanaan matang. Pada tahap ini, visi, misi dan aturan disusun dan disepakati bersama. Boleh dibilang, tahap perencanaan menjadi landasan karena menjadi rambu-rambu dari sikap media itu sendiri. Tim redaksi adalah organisasi. Dimana setiap bagiannya memiliki tugas dan wewenang yang berbeda. Namun, satu dengan yang lainnya bekerja dan saling bersinergi sesuai dengan perencaanaan dan pengorganisasian. Setiap edisi atau frekuensi waktu tertentu, redaksi wajib melakukan rapat redaksi untuk menentukan peliputan dan pelaporan berita. Selanjutnya, pemimpin redaksi harus me-review ulang kinerja tim. Apakah pelaporan dan gaya bahasa berita sudah sesuai dengan perencanaan awal, tata tertib redaksi dan kode etik jurnalistik. Jika keempat teori ini diterapkan, tentu akan membangun manajemen redaksi media kampus yang lebih profesional.

Media kampus sangat berpotensi untuk menjadi produk jurnalistik yang mampu memberi kontribusi bagi sivitas akademika, bahkan masyarakat luas. Sudah saatnya media kampus menjadi ajang kreativitas mengedepankan profesionalitas dan intelektualitas. Bahkan, peran media kampus pun tak sebatas lingkup publikasi saja. Mengutip Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran (UNPAD), Maimon Herawati, S.Sos, M.Litt, kuliah umum Materi Penulisan dan Jurnalistik di Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) Mei lalu, “Peninggalan terpenting sebuah peradaban adalah karya tulis. Jika ingin membangun peradaban, maka buatlah tulisan. Sebaliknya, jika ingin menghancurkan peradaban maka hancurkanlah tulisannya.” Disinilah tampak bahwa peran jurnalistik atau pers kampus bukan hanya mentransfer informasi dan kecerdasan, melainkan juga sebagai dokumentasi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kampus.


Risca Tesmianti Suarna
Staf Humas Institut Teknologi Telkom,
Tim Redaksi Majalah TELL dan www. ittelkom.ac.id (Terbitan IT Telkom)
Dimuat di Mimbar Kampus Harian Pikiran Rakyat Edisi Kamis, 10 September 2009.

DJ Arie "Audiens Bebe-an Berarti Lagi Bosen"

Minggu 21/04/2013, saya ikut di kelas DJ Arie untuk materi teknik presentasi. Saat itu saya baru ngeh kalau gesture dan attitude bisa memberikan kesan tertentu pada saat kita presentasi. Pada saat presentasi, tidak hanya konten saja yang didengar audiens. Namun kualitas suara, sikap dan bahasa tubuh akan berpengaruh pada kenyamanan audiens. Pada saat presentasi tentu kita ingin audiens betah mendengarkan kita. Jika audiens mulai asik dengan smartphone atau blackberry-nya, bisa jadi dia bosan mendengarkan kita.

Sabtu, 20 April 2013

Jenis Berita dalam Jurnalistik

Suatu hari, ada mahasiswa bertanya pada saya "Bu, gimana sih cara bikin berita?"
Kalo bikin berita sih gampang. Asalkan tahu dulu jenis berita apa yang ingin kita buat. Supaya kita bisa menentukan informasi apa saja yang harus didapatkan dilapangan.
Berikut ini beberapa jenis berita dalam jurnalistik.

1. Straight  News Report

Laporan yang bersifat langsung mengenai suatu berita atau peristiwa. Bersifat objektif, fakta, bukti. Penulisan mengandung unsur what, who, when, where, why, dan how (5W + 1H).

What : Peristiwa apa yang terjadi.
When : Kapan peristiwa terjadi
Who : Siapa unsur yang trlibat di peristiwa itu lalu lengkapi dengan statement.
Where : Dimana peristiwa itu terjadi.
Why : kenapa peristiwa itu terjadi.
How : Bagaimana peristiwa itu terjadi.

Dalam menulis berita Straight News hindarkan menulis berdasarkan sudut pandang pribadi penulis. Kalau ingin beritanya panjang bisa dikembangkan sisi Why dan How saja, tidak perlu berimajinasi sendiri. Sebenarnya sih, berita straight news nggak perlu panjang, karena ada Depth News Report yang bisa melakukan itu. Yang penting Straight News efektif, lugas dan informatif. Itu saja sudah cukup.

Selain itu, gunakan konsep penulisan makna piramida terbalik. Yaitu menempatkan informasi terpenting sebuah berita di awal tulisan. Dan yang tidak terlalu penting di akhir tulisan.

2. Depth News Report

Nah, untuk Depth News Report reporter (wartawan) harus mampu memggali fakta-fakta lebih dalam. Tidak hanya 5W1H, tapi harus menambahkan informasi tentang fakta-fakta mengenai peristiwa itu sendiri. Sifatnya memang sebagai informasi tambahan. Tapi justru informasi inilah yang biasanya paling dinanti pembaca. Kalau saya memandang informasi tentang fakta-fakta ini justru penting. Karena disitulah 'greget point' nya.

3. Comprehensive News

Comprehensive News melaporkan fakta secara menyeluruh berdasarkan berbagai sudut pandang atau aspek. Biasanya dimuat di majalah atau koran dengan halaman khusus.

Misalnya ada sebuah peristiwa. Sebut saja peristiwa tentang Saham Perusahaan X Turun. Maka informasi bisa digali dari sisi perusahaan, dari sisi investor, sisi government, sisi pakar ekonomi dan lain-lain.Terus terang, jenis berita ini yang paling saya suka. Karena mengantarkan pembaca untuk memahami dari berbagai sudut pandang.

3. Interpretative Report

Interpretative report bersifat mengabarkan isu, masalah atau peristiwa kontroversial. Laporan interpretative biasanya fokus mengembangkan unsur 'why'.

4. Feature Story

Tulisan feature enggak cepat basi dimakan waktu. Tapi juga tidak menuntut aktualitas berita. Feature dikemas menarik dan populer. Penulis feature menyajikan suatu pengalaman pembaca. Gaya penulisan feature tidak datar. Penulis bebas menuangkan gagasan dengan gayanya. Tulisan feature bersifat menghibur pembaca. Tak jarang penulis menyisipkan selera humor dalam gaya penulisan. Dalam menulis feature, tujuan menghibur lebih diutamakan ketimbang informasi yang disajikan.

5.Depth Reporting

Depth Reporting merupakan laporan jurnalistik yang bersifat utuh. Disajikan mendalam dan tajam tentang suatu peristiwa fenomenal dan aktual.

6. Editorial

Editorial bisa juga disebut sikap media terhadap suatu topik utama media tersebut. Editorial menyoroti peristiwa yang menjadi wancana publik berdasar sudut pandang media. Editorial menyajikan fakta dan opini melalui penafsiran berita penting. Editorial mempunyai kekuatan mempengaruhi pendapat umum.




Minggu, 14 April 2013

Persiapan Peliputan

Kalo acaranya bagus (bernilai berita), biasanya saya melakukan peliputan untuk 3 jenis media. Di antaranya berita website, multimedia, dan sosial media. Oleh karena itu perangkat penunjang penting dibawa saat melakukan peliputan.
Nah, apa saja sih yang biasanya dibawa saat meliput.
1. Handycam
Handycam wajib dibawa. Bentuknya simpel dan gak ribet. Buat ngejar momen pas lah. Handycam buat ngambil materi video untuk berita multimedia. Kalo pake handycam jangan lupa bawa batre cadangan dan charger. Sehingga kalo batre habis kita bisa pake batre cadangan. Sementara batre yang habis bisa kita charge. Batre handycam cenderung cepat habis.
2. Charger. Jelas, buat ngecas batre.
3. Kamera SLR.  Sebagus apapun kamera gajet gak ada yang bisa nandingin kualitas kamera SLR
4. Tripod. Buat saya, tripod itu asisten. Disaat saya harus mengambil momen foto dan video secara bersamaan. Yang penting momennya dapet. Selain itu,  Kalo saya pasang handycam di tripod, saya akan mendapatkan rekaman gambar yang stabil pada saat menggunakan fungsi zoom pada kamera.  (Tripod digunakan kalau acaranya seminar, kompetisi, konser, sport, konferensi, simposium, dan serupanya. Atau pada saat wawancara eksklusif narasumber).
5. Tablet, berfungsi banget buat publikasi berita di media sosial. Biasanya sih berita-berita pendek aja. Buat nulis berita juga.
6 . Roll kabel. Wah penting banget nih. Buat temen charger.
7. Recorder,  buat wawancara.
8. flashdisk, hardisk eksternal, card reader.
Memang gak semua reporter memiliki persiapan yang sama. Tergantung dari keperluannya apa. Kalo dia memang  butuh buat berita di koran cetak, biasanya dia bawa kamera SLR/Digital dan note saja. Teman saya yang wartawan website malah cukup cuma bawa Blackberry saja. Ada juga teman saya yang wartawan radio, dia hanya membawa recorder dan ponsel. Ada juga teman saya yang wartawan TV cuma bawa Camcorder dan mic atau clip on mic.
Selain menyiapkan perangkat, seorang reporter harus benar-benar mempersiapkan fisik dan mental. Kenapa? Saat meliput kita bekerja tak hanya dengan otak, tapi juga menguras fisik. Oleh karena itu wajib 30 menit olah raga setiap hari. Supaya badan tidak cepat lelah dan tidak cepat sakit. Kualitas tidur juga harus dijaga. Kalo bisa hindari begadang. Tidur 8 jam cukup. Kalo saya benar-benar menjaga kualitas tidur. Kebersihan badan dan wewangian juga diperhatikan agar badan rileks total saat tidur. Bahkan suhu dan sirkulasi udara dalam kamar juga di jaga agar tidur tetap berkualitas.


Senin, 18 Maret 2013

Angle dan Ghost Effect



Salah  satu ciri khas dari kelasnya DJ Arie pasti gak lepas dari siaran di radio. Ya iya lah, secara DJ senior di Bandung gitchueee. Well, DJ Arie bilang, "Apapun bentuknya public speaking itu pasti berawal dari teknik siaran di radio. Entah seseorang mau jadi MC, presenter TV atau presentasi. Teknik siaran bisa di adopsi dimana-mana,". Mungkin bedanya ngemsi, presentasi atau presenter  enggak perlu pake ngatur track dan mixing kali ya. Hehe.

Kali ini  DJ Ari membahas pentingnya menentukan angle dan ghost effect. Angle diperlukan untuk menentukan kata kunci yang paling menarik dari sekumpulan informasi yang harus disampaikan pada pendengar. Ini penting buat penyiar radio disaat harus menyampaikan informasi penting atau iklan. Misalnya, ada sekumpulan informasi seperti berikut.

Materi Sponsor : Tiap pembelian 1 paket nasi di Cute Resto&Caffee, konsumen akan mendapatkan gratis omlette. Penawaran berlangsung setiap hari pada jam 12-2 siang. Setiap pembelian 50 ribu, konsumen juga akan ikut undian berhadiah voucher senilai 100 ribu. Cute Resto&Caffe, the only one original taste.

Kalo penyiar radio menyampaikan informasi diatas dengan cara MEMBACA saja tentu tidak enak di dengar. Coba saja, sahabat baca trus rekam pake recorder di ponsel dan dengarkan sendiri. Gak asik yah? Kaya baca pengumuman. Tentu pendengar pun tidak akan tertarik dengan penawaran itu. Gimana kalau saya coba mengambil angle "Tiap Jam 12 sampai jam 2 siang" lalu mengembangkan informasi berdasar materi sponsor.

"Kalo jam seginian nih, jam 12 siang, enaknya  makan nasi  dengan ayam goreng plus omellete, mantab. . Kalo kamu juga ngebayangin enaknya paket nasi, ayam plus omllete, langsung aja mampir ke Cute Resto&Caffee. Disana kamu tinggal pesen paket nasi dan ayam, lalu kamu bakal dapet omllete gratis dari Cute Resto&Caffee. Tapi harus buruan karena penawarannya sampai jam 2 siang. Selain dapet ommlete  gratis kamu juga bisa mengikuti undian hadiah voucher 100 ribu di setiap pembelian 50 ribu. Ayo buruan dateng. Jangan sampai kehabisan deh. Cute Caffee&Resto, The Only One Original Taste,"

Intinya, gunakan kalimat bertutur. Seolah olah kamu mengajak berbicara pada satu orang. Walau pun ada sekian ribu pendengar di luar studio sana. Tujuannya supaya si pendengar merasa ada yang mengajaknya bicara, spesial hanya pada dia. Nah, inilah yang dinamakan Ghost Effect. So, hindari kata panggilan yang bersifat majemuk. Seperti 'kamu semua' 'kalian' 'kamu-kamu' dan panggilan majemuk lainnya.

Kira-kira begitulah ilmu yang saya dapat dari DJ Arie di hari Minggu siang 17 Maret 2013. Thanks ya DJ Arie.